Sabtu, 26 Maret 2011
Minggu, 20 Maret 2011
Sabtu, 15 Januari 2011
makalah layanan bimbingan konseling
BAB I
PENDAHULUAN
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikan, mengamanatkan bahwa setiap satuan pendidikan harus menyusun kurikulum yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP.
Pada penerapan KTSP, Guru Bimbingan Konseling di sekolah memberikan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam memfasilitasi “Pengembangan Diri” siswa sesuai minat , bakat serta mempertimbangkan tahapan tugas perkembangannya. Mengingat adanya keberagaman individu siswa maupun keberagaman kemampuan Guru Bimbingan Konseling di sekolah maka perlu ditegaskan bahwa pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah harus menyusun program guna mengakomodasi Undang-undang nomor 20 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tersebut beserta peraturan-peraturan yang menyertainya.
Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang didalamnya memuat struktur kurikulum, telah mempertajam perlunya disusun dan dilaksanakannya program pengembangan diri yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga pendidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi, kehidupan social, belajar, dan pengembangan karir peserta didik. Dalam permendiknas Nomor 23 tahun 2006 dirumuskan SKL yang harus dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran bidang studi, maka kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah kompetensi kemandirian untuk mewujudkan diri (self actualization) dan pengembangan kapasitasnya (capacity development) yag dapat mendukung pencapaian kompetensi lulusan. Sebaliknya, kesuksesan peserta didik dalam mencapai SKL akan secara signifikan menunjang terwujudnya pengembangan kemandirian.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Jenis-Jenis Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah, terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa, diantaranya:
1. Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
2. Layanan Informasi
Layanan Informasi adalah layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
3. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan Penempatan dan Penyaluran adalah layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap Layanan Penempatan dan Penyaluran
4. Layanan Konten atau Layanan Bimbingan Belajar
Menurut Prayitno (2004), layanan penguasaan konten merupakan suatu layanan bantuan kepada individu (siswa) baik sendiri maupun dalam kelompok untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar. Dengan pengusaan konten, individu atau siswa diharapkan mampu memenuhi kebutuhannya serta mengatasi masalah-masalah yang di alaminya.
Layanan Konten layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.
Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya, pada umumnya dapat digolongkan atas ;
a. Keterlambatan akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.
b. Ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yan, amat tinggi itu.
c. Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus.
d. Kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas
e. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan yang seharusnya, seperti menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya, dan sebagainya.
Adapun tujuan penguasaan konten adalah
a. Merujuk pada fungsi pemahaman
b. Merujuk pada fungsi pencegahan
c. Merujuk pada fungsi pengentasan
d. Merujuk pada fungsi pengembangan dan pemeliharaan
5. Layanan Konseling perorangan
Layanan Konseling Perorangan merupakan layanan yang memungkinkan siswa mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan. Layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Langkah-langkah dalam layanan konseling perorangan
a. Layanan konseling diselenggarakan secara resmi;
Menurut Munro dkk, dasar etika konseling yaitu kerahasiaan, keterbukaan dan tanggung jawab pribadi siswa. Sifat “resmi” layanan konseling ditandai adanya dengan ciri-ciri yang melekat pada palaksanaan layanan itu, yaitu bahwa:
1) Layanan itu merupakan usaha yang disengaja
2) Tujuan layanan tidak boleh lain daripada untuk kepentingan dan kebahagiaan siswa
3) Kegiatan layanan diselenggarakan dalam format yang telah ditetapkan
4) Metode dan teknologi dalam layanan berdasar teori yang telah teruji
5) Hasil layanan dinilai dan di beri tindak lanjut
b. Penengentasan masalah melalui konseling
Langkah-langkah umum pengentasan masalah melalui konseling pada dasarnya adalah;
1) Pamahaman masalah
2) Analisis sebab-sebab timbunya masalah
3) Aplilkasi metode khusus
4) Evaluasi
5) Tindak lanjut
c. Tahap-tahap keefektifan pengentasan masalah melalui konseling
Kelima tahap ke efektifan konseling itu dapat digambarkan melalui diagram sebagai berikut:
Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar siswa memahami kondisi dirinya sendiri lingkungannya, permasalahan yang di alami, kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga siswa mampu mengatasinya. Dengan kata lain konseling perorangan bertujuan untuk mengentaskan masalah yang di alami siswa.
6. Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan Bimbingan Kelompok merupakan layanan yang memungkinkan sejumlah siswa secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas topik tertentu. Layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan.
7. Layanan Konseling Kelompok
Layanan Konseling Kelompok Merupakan layanan memungkinkan siswa masing-masing anggota kelompok memperoleh kesempatan untuk membahas dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
8. Layanan Konsultasi
Layanan Konsultasi Merupakan layanan yang memungkinkan seseorang memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau permasalahan orang lain yang menjadi kepeduliannya. Layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
9. Layanan Mediasi
Layanan Mediasi merupakan layanan yang memungkinkan fihak-fihak yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan kecocokan menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan mereka. Layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.
Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :
a. Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan.
b. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup.
c. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.
d. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien.
e. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.
B. Program Kegiatan Layanan Bimbingan Konseling Di Sekolah
1. Persiapan
a. Penyusunan Prosata Jenjang (termasuk Program & Alokasi waktu)
b. Pembuatan Program Satuan Pelajaran (termasuk LKS)
c. Penyediaan Fasilitas (ruang BK, meja dan kursi, lemari, papan tulis, dsb)
2. Pengumpulan Data
a. Observasi (individual dan kelompok)
b. Interview (langsung dan tidak langsung)
c. Angket (siswa dan orang tua)
d. Tes Psikologis (kemampuan, bakat, minat, dsj)
e. Hasil Prestasi Belajar (nilai ulangan, nilai raport)
f. Daftar kehadiran dan absensi
g. Laporan kasus (dari Guru, orang tua, teman, dsb)
3. Layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan
a. Layanan Orientasi
b. Layanan Informasi
c. Layanan Bimbingan Penetapan dan Penyaluran
d. Layanan Bimbingan Belajar, Karir, Pribadi, Sosial
e. Layanan Bimbingan Kelompok/Klasikal
f. Layanan Konseling Individual
g. Layanan Konseling Kelompok
4. Konsultasi
a. Guru-guru (formal atau informal)
b. Orang tua (panggilan dari sekolah atau kunjungan ke rumah)
c. Psikolog/Psikiater/Dokter, dsb (sifatnya referal)
5. Pertemuan / Rapat
a. Rapat rutin Bidang BK
b. Kegiatan Sanggar
c. Pertemuan Guru BK antar jenjang
6. Pelatihan / Penataran
a. Dengan tujuan meningkatkan wawasan pengetahuan dan keterampilan Guru BK.
7. Evaluasi dan Tindak lanjut
a. Membuat laporan 2 bulanan (kepada Ka. Sek. & Ka. Bid.)
b. Membuat Evaluasi Prosata
D. Materi Layanan Bimbingan
Layanan bimbingan hendaknya disesuaikan dengan tujuan dan sasaran layanan bimbingan serta karakteristik tujuan dan perkembangan siswa dalam aspek pribadi-sosial, pendidikan serta karier. Disamping itu sebaiknya diperhatikan pula kebutuhan siswa dari masing-masing tingkatan kelas. Namun pengelompokan isi layanan menurut tingkatan kelas, jangan digunakan secara kaku, tetapi harus ditetapkan secara fleksibel. Dengan memperhatikan hal itu, isi layanan bimbingan di SLTP / SLTA untuk setiap kelas adalah sebagai berikut :
1. Bimbingan Pribadi-sosial :
a. Memahami ciri-ciri kecakapan diri sendiri (mengenal kekuatan dan kelemahannya).
b. Mendiskusikan cara-cara mengatur kegiatan sehari-hari.
c. Membedakan antara hal-hal yang membantu dan berbahaya bagi kesehatan fisik.
d. Mendiskusikan tanggung jawab siswa di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
e. Menelaah tekanan-tekanan yang dirasakan datang dari kelompok sebaya.
f. Mengetahui bahwa mendengarkan dan berbicara secara tepat/ sopan membantu memecahkan masalah.
g. Memberikan contoh bahwa pengalaman di masa lalu berpengaruh pada tindakan saat ini masa yang akan datang.
2. Bimbingan belajar :
a. Mengembangkan rencana untuk mengatur waktu belajar.
b. Mengembangkan motivasi yang mendorong agar mampu belajar sebaik mungkin.
c. Mempelajari cara-cara belajar yang efektif dan efisien.
d. Menemukan cara-cara menghadapi ulangan/test.
3. Bimbingan karier :
a. Mengetahui dan menelaah pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan diri sendiri.
b. Memperkirakan adanya perbedaan macam-macam karier masa kini dan masa yang akan datang.
c. Menjelaskan bahwa pekerjaan dapat memenuhi kebutuhan hidup.
d. Menelaah bermacam-macam cara untuk melihat kemajuan diri.
PENUTUP
Konseling merupakan adaptasi dari aliran psikologi yang memfokuskan perhatiannya pada tingkah laku yang tampak. Pada hakikatnya konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor kepada klien, bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri. Dalam pandangan kaum behaviorist (termasuk konselor behavioral) manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dirubah dan dibentuk, manusia bersifat mekanistik dan fasif. Banyak pendekatan dalam konseling behavioral, dari keseluruhan pendekatan yang ada semua menjurus pada pendekatan direktif dimana konselor lebih berperan aktif dalam penangan masalahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan madrasah. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Soeparaman. 2003. Bimbingan dan Konseling Pola 17. Yogyakarta: UCY Press
Mappiare, Andi. 1993. Pengantar Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional
Suryah, dalam http://suryah90105.blogspot.com/2008/08/pelayanan-bimbingan-konseling.html di akses hari Rabu, 22 Desember 2010, 19.14 wib
Akhmad Sudrajat, dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/08/jenis-layanan-bimbingan-dan-konseling/ di akses hari rabu, 22 Desember 2010, 19.29 wib
PENDAHULUAN
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikan, mengamanatkan bahwa setiap satuan pendidikan harus menyusun kurikulum yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP.
Pada penerapan KTSP, Guru Bimbingan Konseling di sekolah memberikan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam memfasilitasi “Pengembangan Diri” siswa sesuai minat , bakat serta mempertimbangkan tahapan tugas perkembangannya. Mengingat adanya keberagaman individu siswa maupun keberagaman kemampuan Guru Bimbingan Konseling di sekolah maka perlu ditegaskan bahwa pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah harus menyusun program guna mengakomodasi Undang-undang nomor 20 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tersebut beserta peraturan-peraturan yang menyertainya.
Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang didalamnya memuat struktur kurikulum, telah mempertajam perlunya disusun dan dilaksanakannya program pengembangan diri yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga pendidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi, kehidupan social, belajar, dan pengembangan karir peserta didik. Dalam permendiknas Nomor 23 tahun 2006 dirumuskan SKL yang harus dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran bidang studi, maka kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah kompetensi kemandirian untuk mewujudkan diri (self actualization) dan pengembangan kapasitasnya (capacity development) yag dapat mendukung pencapaian kompetensi lulusan. Sebaliknya, kesuksesan peserta didik dalam mencapai SKL akan secara signifikan menunjang terwujudnya pengembangan kemandirian.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Jenis-Jenis Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah, terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa, diantaranya:
1. Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
2. Layanan Informasi
Layanan Informasi adalah layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
3. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan Penempatan dan Penyaluran adalah layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap Layanan Penempatan dan Penyaluran
4. Layanan Konten atau Layanan Bimbingan Belajar
Menurut Prayitno (2004), layanan penguasaan konten merupakan suatu layanan bantuan kepada individu (siswa) baik sendiri maupun dalam kelompok untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar. Dengan pengusaan konten, individu atau siswa diharapkan mampu memenuhi kebutuhannya serta mengatasi masalah-masalah yang di alaminya.
Layanan Konten layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.
Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya, pada umumnya dapat digolongkan atas ;
a. Keterlambatan akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.
b. Ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yan, amat tinggi itu.
c. Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus.
d. Kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas
e. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan yang seharusnya, seperti menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya, dan sebagainya.
Adapun tujuan penguasaan konten adalah
a. Merujuk pada fungsi pemahaman
b. Merujuk pada fungsi pencegahan
c. Merujuk pada fungsi pengentasan
d. Merujuk pada fungsi pengembangan dan pemeliharaan
5. Layanan Konseling perorangan
Layanan Konseling Perorangan merupakan layanan yang memungkinkan siswa mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan. Layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Langkah-langkah dalam layanan konseling perorangan
a. Layanan konseling diselenggarakan secara resmi;
Menurut Munro dkk, dasar etika konseling yaitu kerahasiaan, keterbukaan dan tanggung jawab pribadi siswa. Sifat “resmi” layanan konseling ditandai adanya dengan ciri-ciri yang melekat pada palaksanaan layanan itu, yaitu bahwa:
1) Layanan itu merupakan usaha yang disengaja
2) Tujuan layanan tidak boleh lain daripada untuk kepentingan dan kebahagiaan siswa
3) Kegiatan layanan diselenggarakan dalam format yang telah ditetapkan
4) Metode dan teknologi dalam layanan berdasar teori yang telah teruji
5) Hasil layanan dinilai dan di beri tindak lanjut
b. Penengentasan masalah melalui konseling
Langkah-langkah umum pengentasan masalah melalui konseling pada dasarnya adalah;
1) Pamahaman masalah
2) Analisis sebab-sebab timbunya masalah
3) Aplilkasi metode khusus
4) Evaluasi
5) Tindak lanjut
c. Tahap-tahap keefektifan pengentasan masalah melalui konseling
Kelima tahap ke efektifan konseling itu dapat digambarkan melalui diagram sebagai berikut:
Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar siswa memahami kondisi dirinya sendiri lingkungannya, permasalahan yang di alami, kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga siswa mampu mengatasinya. Dengan kata lain konseling perorangan bertujuan untuk mengentaskan masalah yang di alami siswa.
6. Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan Bimbingan Kelompok merupakan layanan yang memungkinkan sejumlah siswa secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas topik tertentu. Layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan.
7. Layanan Konseling Kelompok
Layanan Konseling Kelompok Merupakan layanan memungkinkan siswa masing-masing anggota kelompok memperoleh kesempatan untuk membahas dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
8. Layanan Konsultasi
Layanan Konsultasi Merupakan layanan yang memungkinkan seseorang memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau permasalahan orang lain yang menjadi kepeduliannya. Layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
9. Layanan Mediasi
Layanan Mediasi merupakan layanan yang memungkinkan fihak-fihak yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan kecocokan menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan mereka. Layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.
Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup :
a. Aplikasi Instrumentasi Data; merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan.
b. Himpunan Data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup.
c. Konferensi Kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.
d. Kunjungan Rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien.
e. Alih Tangan Kasus; merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.
B. Program Kegiatan Layanan Bimbingan Konseling Di Sekolah
1. Persiapan
a. Penyusunan Prosata Jenjang (termasuk Program & Alokasi waktu)
b. Pembuatan Program Satuan Pelajaran (termasuk LKS)
c. Penyediaan Fasilitas (ruang BK, meja dan kursi, lemari, papan tulis, dsb)
2. Pengumpulan Data
a. Observasi (individual dan kelompok)
b. Interview (langsung dan tidak langsung)
c. Angket (siswa dan orang tua)
d. Tes Psikologis (kemampuan, bakat, minat, dsj)
e. Hasil Prestasi Belajar (nilai ulangan, nilai raport)
f. Daftar kehadiran dan absensi
g. Laporan kasus (dari Guru, orang tua, teman, dsb)
3. Layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan
a. Layanan Orientasi
b. Layanan Informasi
c. Layanan Bimbingan Penetapan dan Penyaluran
d. Layanan Bimbingan Belajar, Karir, Pribadi, Sosial
e. Layanan Bimbingan Kelompok/Klasikal
f. Layanan Konseling Individual
g. Layanan Konseling Kelompok
4. Konsultasi
a. Guru-guru (formal atau informal)
b. Orang tua (panggilan dari sekolah atau kunjungan ke rumah)
c. Psikolog/Psikiater/Dokter, dsb (sifatnya referal)
5. Pertemuan / Rapat
a. Rapat rutin Bidang BK
b. Kegiatan Sanggar
c. Pertemuan Guru BK antar jenjang
6. Pelatihan / Penataran
a. Dengan tujuan meningkatkan wawasan pengetahuan dan keterampilan Guru BK.
7. Evaluasi dan Tindak lanjut
a. Membuat laporan 2 bulanan (kepada Ka. Sek. & Ka. Bid.)
b. Membuat Evaluasi Prosata
D. Materi Layanan Bimbingan
Layanan bimbingan hendaknya disesuaikan dengan tujuan dan sasaran layanan bimbingan serta karakteristik tujuan dan perkembangan siswa dalam aspek pribadi-sosial, pendidikan serta karier. Disamping itu sebaiknya diperhatikan pula kebutuhan siswa dari masing-masing tingkatan kelas. Namun pengelompokan isi layanan menurut tingkatan kelas, jangan digunakan secara kaku, tetapi harus ditetapkan secara fleksibel. Dengan memperhatikan hal itu, isi layanan bimbingan di SLTP / SLTA untuk setiap kelas adalah sebagai berikut :
1. Bimbingan Pribadi-sosial :
a. Memahami ciri-ciri kecakapan diri sendiri (mengenal kekuatan dan kelemahannya).
b. Mendiskusikan cara-cara mengatur kegiatan sehari-hari.
c. Membedakan antara hal-hal yang membantu dan berbahaya bagi kesehatan fisik.
d. Mendiskusikan tanggung jawab siswa di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
e. Menelaah tekanan-tekanan yang dirasakan datang dari kelompok sebaya.
f. Mengetahui bahwa mendengarkan dan berbicara secara tepat/ sopan membantu memecahkan masalah.
g. Memberikan contoh bahwa pengalaman di masa lalu berpengaruh pada tindakan saat ini masa yang akan datang.
2. Bimbingan belajar :
a. Mengembangkan rencana untuk mengatur waktu belajar.
b. Mengembangkan motivasi yang mendorong agar mampu belajar sebaik mungkin.
c. Mempelajari cara-cara belajar yang efektif dan efisien.
d. Menemukan cara-cara menghadapi ulangan/test.
3. Bimbingan karier :
a. Mengetahui dan menelaah pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan diri sendiri.
b. Memperkirakan adanya perbedaan macam-macam karier masa kini dan masa yang akan datang.
c. Menjelaskan bahwa pekerjaan dapat memenuhi kebutuhan hidup.
d. Menelaah bermacam-macam cara untuk melihat kemajuan diri.
PENUTUP
Konseling merupakan adaptasi dari aliran psikologi yang memfokuskan perhatiannya pada tingkah laku yang tampak. Pada hakikatnya konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor kepada klien, bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri. Dalam pandangan kaum behaviorist (termasuk konselor behavioral) manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dirubah dan dibentuk, manusia bersifat mekanistik dan fasif. Banyak pendekatan dalam konseling behavioral, dari keseluruhan pendekatan yang ada semua menjurus pada pendekatan direktif dimana konselor lebih berperan aktif dalam penangan masalahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan madrasah. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Soeparaman. 2003. Bimbingan dan Konseling Pola 17. Yogyakarta: UCY Press
Mappiare, Andi. 1993. Pengantar Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional
Suryah, dalam http://suryah90105.blogspot.com/2008/08/pelayanan-bimbingan-konseling.html di akses hari Rabu, 22 Desember 2010, 19.14 wib
Akhmad Sudrajat, dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/08/jenis-layanan-bimbingan-dan-konseling/ di akses hari rabu, 22 Desember 2010, 19.29 wib
makalah aspek perkembangan spiritual anak
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dalam perspektif merupakan individu, keluarga atau masyarakat yang memiliki masalah spirual dan membutuhkan bantuan untuk dapat memelihara, mempertahankan dan meningkatkan spiritualnya dalam kondisi optimal. Sebagai seorang manusia, manusia memiliki beberapa peran dan fungsi seperti sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Berdasarkan hakikat tersebut, maka perkembangan memandang manusia sebagai mahluk yang holistik yang terdiri atas aspek fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural dan spiritual. Tidak terpenuhinya kebutuhan manusia pada salah satu diantara dimensi di atas akan menyebabkan ketidaksejahteraan atau keadaan tidak sehat. Kondisi tersebut dapat dipahami mengingat dimensi fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan kultural merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan.
Tiap bagian dari individu tersebut tidaklah akan mencapai kesejahteraan tanpa keseluruhan bagian tersebut sejahtera. Kesadaran akan pemahaman tersebut melahirkan keyakinan dalam psikologi perkembangan anak bahwa pemberian asuhan spiritual hendaknya bersifat komprehensif atau holistik, yang tidak saja memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan kultural tetapi juga kebutuhan spiritual manusia. Sehingga, pada nantinya manusia akan dapat merasakan kesejahteraan yang tidak hanya terfokus pada fisik maupun psikologis saja, tetapi juga kesejateraan dalam aspek spiritual. Kesejahteraan spiritual adalah suatu faktor yang terintegrasi dalam diri seorang individu secara keseluruhan, yang ditandai oleh makna dan harapan. Spiritualitas memiliki dimensi yang luas dalam kehidupan seseorang sehingga dibutuhkan pemahaman yang baik dari psikologi sehingga mereka dapat mengaplikasikannya dalam pemberian asuhan psikologi kepada manusia.
B. Tujuan
1. Untuk memenuhi kebutuhan Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Anak
2. Mengetahui konsep spiritual secara umum
3. Mengetahui pola normal spiritual
4. Mampu menganalisa hal-hal yang mampu mempengaruhi spiritual individu
5. Mengetahui perkembangan aspek spiritual berdasarkan konsep tumbuh-kembang manusia
6. Mengetahui karakteristik spiritual, kemudian berdasarkan karakteristik tersebut mampu mengidentifikasi perubahan fungsi spiritual apakah menuju kepada perilaku yang adaptif atau maladaptif.
C. Rumusan Masalah
Identifikasi permasalahan berdasarkan materi yang dipelajari yaitu Konsep Spiritual terdiri dari:
1. Bagaimana membuat pola normal spiritual ?
2. Bagaiman menganalisa berbagai hal dan kondisi yang mampu mempengaruhi spiritual?
3. Bagaimana menganalisa perubahan fungsi spiritual berdasarkan karakteristik spiritual?
BAB II
PEMBAHASAN
Manusia terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya. Seringkali permasalahan yang mucul pada manusia ketika mengalami suatu kondisi dengan penyakit tertentu mengakibatkan terjadinya masalah psikososial dan spiritual. Ketika manusia mengalami penyakit, kehilangan dan stres, kekuatan spiritual dapat membantu individu tersebut menuju penyembuhan dan terpenuhinya tujuan dengan atau melalui pemenuhan kebutuhan spiritual. Penelitan menyebutkan seseorang dinyatakan usianya tinggal beberapa bulan, tetapi karena ia memiliki koping yang baik berdasarkan pengalaman agamanya, ia tetap bahagia menjalani hari-harinya dengan bernyanyi dan ceria, membuat puisi-puisi yang indah. Ternyata orang tersebut mampu bertahan hingga bartahun-tahun. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Pressman, menunjukkan bahwa wanita lanjut usia yang menderita farktur tulang pinggul yang kuat religi dan pengalaman agamanya, ternyata lebih kuat mental dan kurang mengeluh, depresi, dan lebih cepat berjalan daripada yang tidak mempunyai komitmen agama.
Contoh ayat Al quran tata krama pergaulan dalam spiritual islam
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al Israa':23)
Dari hal-hal tersebut diatas dapat dikatakan dimensi spiritual menjadi hal penting sebagai aspek perkembangan manusia. Berikut akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konsep kesehatan spiritual.
A. Konsep spiritual
1. Pengertian spiritual
Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spirit memberikan arti penting ke hal apa saja yang sekiranya menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan seseorang. Spiritual adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, dan harapan, melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama.
Spiritual adalah konsep yang unik pada masing-masing individu (Farran et al, 1989). Masing-masing individu memiliki definisi yang berbeda mengenai spiritual, hal ini dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Menurut Emblen, 1992 spiritual sangat sulit untuk didefinisikan. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritual termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan dan eksistensi. Spiritual menghubungkan antara intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri), interpersonal (hubungan antara diri sendiri dan orang lain), dan transpersonal (hubungan antara diri sendiri dengan tuhan/kekuatan gaib). Spiritual adalah suatu kepercayaan dalam hubungan antar manusia dengan beberapa kekuatan diatasnya, kreatif, kemuliaan atau sumber energi serta spiritual juga merupakan pencarian arti dalam kehidupan dan pengembangan dari nilai-nilai dan sistem kepercayaan seseorang yang mana akan terjadi konflik bila pemahamannya dibatasi. (Hanafi, djuariah. 2005).
2. Karakteristik spiritual
Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal, timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan.
Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:
a) Kepercayaan
b) Pemaafan
c) Cinta dan hubungan
d) Keyakinan, kreativitas dan harapan
e) Maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan
Karakteristik dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengrahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang maladaptif.
B. Pola Normal Spiritual
Pola normal spiritual adalah sesuatu pola yang terintegrasi dan berhubungan dengan dimensi yang lain dalam diri seorang individu. Spiritualitas mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Keyakinan tersebut diketahui sebagai suatu faktor yang kuat dalam penyembuhan dan pemulihan fisik. Setiap individu memiliki definisi dan konsep yang berbeda mengenai spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritualitas termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan, dan eksistensi. Setiap individu memiliki pemahaman tersendiri mengenai spiritualitas karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal tersebur. Perbedaan definisi dan konsep spiritualitas dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup seseorang, serta persepsi mereka tentang hidup dan kehidupan. Pengaruh tersebut nantinya dapat mengubah pandangan seseorang mengenai konsep spiritulitas dalam dirinya sesuai dengan pemahaman yang ia miliki dan keyakinan yang ia pegang teguh.
Konsep spiritual memiliki arti yang berbeda dengan konsep religius. Kedua hal tersebut memang sering digunakan secara bersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. Konsep religius biasanya berkaitan dengan pelaksanaan suatu kegiatan atau proses melakukan suatu tindakan. Konsep religius merupakan suatu sistem penyatuan yang spesifik mengenai praktik yang berkaitan bentuk ibadah tertentu. Emblen dalam Potter dan Perry mendefinisikan religi sebagai suatu sistem keyakinan dan ibadah terorganisasi yang dipraktikan seseorang secara jelas menunjukkan spiritualitas mereka.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa religi adalah proses pelaksanaan suatu kegiatan ibadah yang berkaitan dengan keyakinan tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan spiritualitas diri mereka. Sedangkan spiritual memiliki konsep yang lebih umum mengenai keyakinan seseorang. Terlepas dari prosesi ibadah yang dilakukan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan tersebut. Konsep spiritual berkaitan berkaitan dengan nilai, keyakinan, dan kepercayaan seseorang. Kepercayaan itu sendiri memiliki cakupan mulai dari atheisme (penolakan terhadap keberadaan Tuhan) hingga agnotisme (percaya bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi) atau theism (Keyakinan akan Tuhan dalam bentuk personal tanpa bentuk fisik) seperti dalam Kristen dan Islam. Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dari suatu kepercayaan seorang individu.
Keyakinan mendasari seseorang untuk bertindak atau berpikir sesuai dengan kepercayaan yang ia ikuti. Keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan biasanya dikaitkan dengan istilah agama. Di dunia ini, banyak agama yang dianut oleh masyarakat sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Tiap agama yang ada di dunia memiliki karakteristik yang berbeda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan sesuai dengan prinsip yang mereka pegang teguh. Keyakinan tersebut juga mempengaruhi seorang individu untuk menilai sesuatu yang ada sesuai dengan makna dan filosofi yang diyakininya. Sebagai contoh, persepsi seorang Muslim mengenai psikologi kesehatan dan respon penyakit tentunya berbeda dengan persepsi seorang Budhis. Semua itu tergantung konsep spiritual yang dipahami sesuai dengan keyakinan dan keimanan seorang individu.
Ada beberapa contoh islam yang menerapkan pola normal spiritualnya dengan cara:
1. Pola orang tua mengajarkan anak untuk melaksanakan sholat
2. Pola orang tua memberikan tauladhan untuk menghormati orang yang lebih tua
3. Pola normal orang tua dalam memanfaatkan waktu untuk mengaji bersama anak dalam keluarga
Gambar 1. Pola normal spiritual
Bahkan Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Lebih lanjut dikatakannya bahwa keimanan diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik, yang tidak dapat diukur.
C. Perkembangan Aspek Spiritual
Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi.
Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia. Perkembangan spiritual pada anak sangatlah penting untuk diperhatikan.
1. Individu yang berusia antara 0-18 bulan,
Bayi yang sedang dalam proses tumbuh kembang, yang mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri. Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Haber (1987) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi.
2. Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun).
Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima pengalaman-pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual.
3. Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super ego.
Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masih kesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya.
4. Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak (6-12 tahun).
Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka.
5. Remaja (12-18 tahun).
Pada tahap ini individu sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.
6. Dewasa muda (18-25 tahun).
Pada tahap ini individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa.
7. Dewasa pertengahan (25-38 tahun).
Dewasa pertenghan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual.
8. Dewasa akhir (38-65 tahun).
Periode perkembangan spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat.
9. Lanjut usia (65 tahun sampai kematian).
Pada tahap perkembangan ini, menurut Haber (1987) pada masa ini walaupun membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain. Riset membuktikan orang yang agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan kehidupan lebih baik. Bagi lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas pada proses bukan pada kematian itu sendiri.
Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan manusia. Karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan tingkat pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan keyaninan mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap perkembangan individu menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual yang berbeda.
D. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Spiritual
Spiritual adalah komponen penting dari seorang individu yang dimiliki dan sebuah aspek integral dari filosofi holistik. Perkambangan spiritual pasti mengalami keadaan yang tidak selalu baik seperti halnya fisik. Secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa hal yang mempengaruhi perkembangan spiritual. Spiritualitas tidak selalu berkaitan dengan agama, tetapi spiritualitas adalah bagaimana seseorang memahami keberadaannya dan hubungannya dengan alam semesta. Orang-orang mengartikan spiritualitas dengan berbagai cara dan tujuan tersendiri. Setiap agama menyatakan bahwa manusia ada dibawah kuasa Tuhan. Namun, dari semua itu setiap manusia berusaha untuk mengkontrol spiritualitasnya. Inilah yang disebut dengan menjaga kesehatan spiritual.
Hal terpenting yang mempengaruhi perkembangan spiritual dan sebaiknya kita jaga adalah nutrisi spiritual. Hal ini termasuk mendengarkan hal-hal positif dan pesan-pesan penuh kasih serta memenuhi kewajiban keagaman yang dianut. Selain itu juga dengan mengamati keindahan dan keajaiban dunia ini dapat memberikan nutrisi spiritual. Menilai keindahan alam dapat menjadi makanan bagi jiwa kita. Bahkan serangga yang terlihat buruk pun adalah sebuah keajaiban untuk diamati dan dinilai.
Kedamaian dengan meditasi adalah bentuk lain untuk mendapatkan nutrisi spiritual. Hal itu bukanlah meminta Tuhan kita apa yang kita inginkan tetapi mencari keheningan untuk merekleksikan dan berterima kasih atas apa pun yang telah kita terima. Hal lain yang mempengaruhi perkembangan spiritual kita adalah latihan. Tidak hanya latihan dasar untuk kesehatan tubuh, tetapi juga latihan spiritual untuk menjaga spiritual. Latihan ini terdiri dari penggunaan jiwa kita. Sehingga latihan tersebut memberi sentuhan pada jiwa kita dan digunakan untuk menuntun kita untuk bertingkah-laku dengan baik, untuk menunjukan cinta kasih dan perasaan pada oring lain untuk memahami dan untuk mencari kedamaian. Faktor lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah lingkungan. Hal ini dikarenakan lingkungan dimana kita hidup adalah somber utama kejahatan ynag dapat mempengaruhi jiwa kita. Kita harus waspada untuk menghindari keburukan yang berasal dari lingkungan kita dan mencari hal positif yang dapat diambil.
Tantangan yang dapat mengancam perkembangan spiritual kita dapat berasal dari luar maupun dari dalam dari kita. Ancaman dari luar dikarenakan setiap orang memiliki bentuk penularan spiritual yang menyebarkan penyakit spiritual kepada orang lain disekitar mereka. Beberapa orang merusak moral dan mencoba untuk menarik orang lain untuk mengikuti kepercayaannya. Beberapa agama memberikan bekal keimanan yang cukup untuk menolak kepercayaan lain. Banyak orang-orang yang melakukan hal-hal yang buruk dan jahat. Kemudian mempengaruhi orang lain untuk mengikuti hal-hal buruk yang dilakukan. Keinginan untuk melakukan hal-hal buruk tersebut timbul dari keinginan diri sendiri. Jadi, Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah nutrisi, latihan dan lingkungan tempat tinggal. Selain itu, terdapat ancaman dari luar maupun dari dalam diri kita. Sehingga kita harus pandai-pandai untuk menjaga kesehatan spiritual kita.
E. Perubahan Fungsi Spiritual
Perilaku individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme dalam kehidupaannya. Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Spiritual adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, harapan, dan melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan, memenuhi kewajiban agama, dan kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan. Masalah spiritual ketika penyakit, kehilangan, dan nyeri menyerang seseorang.
Kekuatan spiritual dapat membantu seseorang ke arah perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual. Individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup. Perubahan perilaku mungkin menjadi perwujudan dari disfungsi spiritual. Manusia yang gelisah tentang hasil tes diagnosa atau yang menunjukan kemarahan setelah mendengar hasil mungkin menjadi menderita distresss spiritual. Orang menjadi lebih merenung, berupaya untuk memperhitungkan situasi dan mencari fakta bacaan yang berlaku. Beberapa reaksi emosional, mencari informasi, dan dukungan dari teman dan keluarga. Pengenalan dari masalah, kemungkinan yang timbul tidak bisa tidur atau kekurangan konsentrasi. Kesalahan, ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan kecemasan juga mungkin menjadi indikasi perubahan fungsi spiritual.
Ekspresi adaptif dan malaadaptif dari kebutuhan spiritual dapat dilihat tabel bawah ini:
No. Ekspresi Contoh ekspresi adaptif maladaptif
1. Kepercayaan (Kepercayaan diri dan memiliki daya tahan).
a) Menerima yang lain agar mampu bertemu dengan kebutuhan
b) Kepercayaan dalam hidup
c) Menerima hasil dari hidup
d) Terbuka kepada Tuhan
e) Menunjukan ketidaknyamanan dengan kesadaran diri sendiri
f) Mudah tertipu
g) Merasakan hanya orang dan tempat tertentu saja yang aman
h) Mengharapkan orang menjadi tidak ramah dan tidak dapat dipercaya
i) Tidak sabar
j) Takut akan kehendak Tuhan
2. Pemaafan (Menerima ketidaksempurnaan diri dan lainnya).
a) Tidak menghakimi
b) Memandang penyakit berdasarkan realitas
c) Mengalami pemaafan diri sendiri
d) Menawarkan untuk memaafkan yang lain
e) Menerima pemaafan dari Tuhan
f) Mempunyai pandangan secara realistis di masa lalu - Memandang penyakit sebagai hukuman
g) Percaya Tuhan menghukum
h) Diantara mencela diri sendiri atau mencela pekerjaan
3. Cinta dan hubungan (Mengungkapkan rasa dicintai Tuhan dan lainnya).
a) Menerima bantuan
b) Menerima diri sendiri
c) Mencari kebaikan lainnya
d) Merasa yang lain menghakimi dia
e) Berkelakuan diri sendiri secara deskriptif
f) Menolak untuk kerjasama dengan tim kesehatan
g) Mengkhawatirkan tentang pemisahan dari mencintai seseorang
h) Penolakan diri atau menunjukan salah harga diri dan sifat egois
i) Kekurangan hubungan cinta dengan Tuhan
j) Merasa ada jarak dan terpisahkan dari Tuhan
4. Keyakinan (Menggantungkan kebijakan bersifat illahi kepada Tuhan).
a) Motivasi terhadap pertumbuhan
b) Mengungkapkan kepuasan dengan keterangan dari hidup setelah mati
c) Mengungkapkan kebutuhan untuk masuk kedalam naungan besar dari drama cerita manusia
d) Mengungkapkan kebutuhan tanda, ritual
e) Mengungkapkan kebutuhan dari makna untuk membagi kepada komunitas seiman
f) Mengungkapkan dua perasaan yang saling bertentangan tentang Tuhan
g) Kekurangan iman di luar batas kewajaran kekuatan atau Tuhan
h) Ketakutan mati atau hidup setelah mati
i) Putus asa, dan marah dengan Tuhan
j) Ketidakjelasan nilai, kepercayaan, dan tujuan
k) Konflik nilai
l) Kekurangan komitmen
5. Kreativitas dan harapan (Bertanya informasi tentang kondisi).
a) Berbicara tentang kondisi realistis
b) Menggunakan waktu dengan yang bermanfaat
c) Mencari jalan untuk menunjukan diri sendiri
d) Lebih suka menemukan kenyamanan di dalam diri daripada fisik diri atau kriteria duniawi
e) Mengungkapkan harapan dimasa depan
f) Terbuka terhadap kemungkinaan dari ketentraman
g) Mengungkapkan ketakutan dari kehilangan kontrol
h) Mengungkapkan kebosanan
i) Kekurangan visi dari kemungkinan alternatif
j) Ketakutan terapi
k) Keputusasaan
l) Tidak dapat membantu diri sendiri atau menerima diri
m) Tidak dapat menikmati apapun
n) Meletakkan hidup atau keputusan besar di genggaman
6. Maksud dan tujuan (Mengungkapkan kepuasan hidup).
a) inggal hidup di kesepakatan dengan sistem nilai
b) Menerima atau memanfaatkan penderitaan untuk mengerti diri sendiri
c) Mengungkapkan maksud hidup atau mati
d) Mengungkapkan komitmen dan tujuan akhir orientasi
e) Mempunyai makna jelas dari apa yang penting
f) Mengungkapkan tidak ada tujuan untuk hidup
g) Menemukan tidak ada maksud dalam penderitaan
h) Mempertanyakan maksud penderitaan
i) Mempertanyakan tujuan dari penyakit
j) Tidak dapat membentuk tujuan akhir atau mempunyai tujuan akhir tak bisa dicapai
k) Mencaci maki obat atau alkohol
l) Bercanda tentang hidup setelah kematian
7. Anugrah atau Karunia (Hidup di pergerakan)
a) Merasakan berkat dan kemewahan
b) Merasakan anugrah yang diberikan di akhirat kepada diri dari Tuhan
c) Merasakan ketentraman atau kebulatan hati
d) Cemas tentang masa lalu dan masa depan
e) Berorientasi kearah penghargaan atau hasil
f) Fokus pada penyesalan
Pembahasan diatas menggambarkan kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Perubahan fungsi spiritualitas sering terjadi dalam kehidupan. Oleh karena itu, perubahan fungsi spiritualitas manusia perlu dipahami secara benar.
“Sirkuit spiritual Pada Otak”
F. Perkembangan Spiritual Anak
• “The available empirical studies on developmental processes that are part or religiousness across the lifespan have, for the most part, stopped at the end of adolescence. Part of this “invitation,” therefore, is for you to extend this research.”
• “Studi empiris yang tersedia pada proses perkembangan yang merupakan bagian dari kereligiusan di seluruh tahap kehidupan, sebagian besar, berhenti di akhir masa remaja. Oleh karena itu, bagian dari ‘usulan’ ini ditujukan kepada Anda agar melakukan penelitian lebih lanjut.”
G. Runtuhnya Tabularasa Jhon Locke
• “Do not assume from what I have already said that a child of this age has a mind like a blank sheet of paper, or an empty vessel that will be gradually fild up, Absorbing indiscriminately during this period is active, rather than passive.” “
• Jangan menganggap bahwa pikiran seorang anak itu seperti kertas putih, atau bejana kosong, yang secara gradual diisi, yang secara sembarangan tanpa pemilahan menyerap sesuatu dari dunia luar, proses penyerapan pada periode ini lebih bersifat aktif dari pada pasif.”
H. Makna agama bagi anak
Embrio Munculnya Agama Pada Anak
• “…term God for a young child is likely to mean big person. If God is called Father, the child thinks in terms of an oversized, more powerful father who is basically similar to the child’s actual father.
• “…Istilah Tuhan untuk anak-anak cenderung berarti orang besar. Jika Tuhan disebut Bapa, anak berpikir dalam hal yang besar, ayah yang lebih kuat yang pada dasarnya sama dengan ayah anak yang sebenarnya.”
I. Pandangan Tokoh Barat
“Penemuan pasangan Gluecks yang pertama ialah bahwa kenakalan remaja bukan fenomena baru dari masa remaja melainkan suatu lanjutan dari pola perilaku asosiasi yang mulai pada masa kanak-kanak. Pasangan Gluecks menyatakan bahwa sudah semenjak usia 2-3 tahun ada kemungkinan mengenali anak yang kelak menjadi remaja yag nakal.
J. Pandangan Tokoh Islam
Menurut Ahmad Tafsir anak yang tidak dikembangkan aspek moral-keagamaannya, maka kelak di masa dewasa akan menjadi orang yang relatif sulit dididik untuk beragama.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Spiritual berkaitan erat dengan dimensi lain dan dapat dicapai jika terjadi keseimbangan dengan dimensi lain ( fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural). Spiritual sangat berpengaruh terhadap koping yang dimiliki individu. Semakin tinggi tingkat spiritual individu, maka koping yang dimiliki oleh individu tersebut juga akan semakin meningkat. Sehingga mampu meningkatkan respon adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut. Peran pendidik adalah bagaimana mampu mendorong manusia untuk meningkatkan spiritualitasnya dalam berbagai kondisi, Sehingga manusia mampu menghadapi, menerima dan mempersiapkan diri terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut.
B. Saran
Peningkatan spiritualitas dalam diri setiap individu sangat penting untuk diupayakan. Upaya untuk melakukan peningkatan spiritualitas dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan latihan yoga dan melakukan meditasi. Penting juga diperhatikan pemenuhan nutrisi spiritual. Hal tersebut tentunya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, akan lebih baik jika dilaksanakan secara berkesinambungan. Dengan meningkatkan spiritualitas dalam diri, maka koping yang kita miliki juga akan meningkat. Sehingga mampu berperilaku dan mempertahankan kondisi yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosda
Gunarsa, Singgih. 1981. Psikologi Remaja. Jakarta: Gunung Mulia
Hurlock, Elizabeth B. 1993. Perkembangan anak. Jakarta: Erlangga
Kartono, Kartini. 1979. Psikologi Anak. Bandung: Alumni
Nugroho, Trinoval Yanto, dalam Nugroho,http://www.trinoval.web.id/2010/07/perkembangan-spiritual-pada-dewasa_15.html di akses hari jum’at, 24 Desember 2010, 16.10 wib
Sarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: Sinar Grafika Offset
Susi Purwati, dalam http://susipurwati.blogspot.com/2010/01/konsep-kesehatan-spiritual.html Di akses hari Jum’at, 24 Desember 2010, 15.49 wib
Uno, Hamzah. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dalam perspektif merupakan individu, keluarga atau masyarakat yang memiliki masalah spirual dan membutuhkan bantuan untuk dapat memelihara, mempertahankan dan meningkatkan spiritualnya dalam kondisi optimal. Sebagai seorang manusia, manusia memiliki beberapa peran dan fungsi seperti sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Berdasarkan hakikat tersebut, maka perkembangan memandang manusia sebagai mahluk yang holistik yang terdiri atas aspek fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural dan spiritual. Tidak terpenuhinya kebutuhan manusia pada salah satu diantara dimensi di atas akan menyebabkan ketidaksejahteraan atau keadaan tidak sehat. Kondisi tersebut dapat dipahami mengingat dimensi fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan kultural merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan.
Tiap bagian dari individu tersebut tidaklah akan mencapai kesejahteraan tanpa keseluruhan bagian tersebut sejahtera. Kesadaran akan pemahaman tersebut melahirkan keyakinan dalam psikologi perkembangan anak bahwa pemberian asuhan spiritual hendaknya bersifat komprehensif atau holistik, yang tidak saja memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan kultural tetapi juga kebutuhan spiritual manusia. Sehingga, pada nantinya manusia akan dapat merasakan kesejahteraan yang tidak hanya terfokus pada fisik maupun psikologis saja, tetapi juga kesejateraan dalam aspek spiritual. Kesejahteraan spiritual adalah suatu faktor yang terintegrasi dalam diri seorang individu secara keseluruhan, yang ditandai oleh makna dan harapan. Spiritualitas memiliki dimensi yang luas dalam kehidupan seseorang sehingga dibutuhkan pemahaman yang baik dari psikologi sehingga mereka dapat mengaplikasikannya dalam pemberian asuhan psikologi kepada manusia.
B. Tujuan
1. Untuk memenuhi kebutuhan Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Anak
2. Mengetahui konsep spiritual secara umum
3. Mengetahui pola normal spiritual
4. Mampu menganalisa hal-hal yang mampu mempengaruhi spiritual individu
5. Mengetahui perkembangan aspek spiritual berdasarkan konsep tumbuh-kembang manusia
6. Mengetahui karakteristik spiritual, kemudian berdasarkan karakteristik tersebut mampu mengidentifikasi perubahan fungsi spiritual apakah menuju kepada perilaku yang adaptif atau maladaptif.
C. Rumusan Masalah
Identifikasi permasalahan berdasarkan materi yang dipelajari yaitu Konsep Spiritual terdiri dari:
1. Bagaimana membuat pola normal spiritual ?
2. Bagaiman menganalisa berbagai hal dan kondisi yang mampu mempengaruhi spiritual?
3. Bagaimana menganalisa perubahan fungsi spiritual berdasarkan karakteristik spiritual?
BAB II
PEMBAHASAN
Manusia terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya. Seringkali permasalahan yang mucul pada manusia ketika mengalami suatu kondisi dengan penyakit tertentu mengakibatkan terjadinya masalah psikososial dan spiritual. Ketika manusia mengalami penyakit, kehilangan dan stres, kekuatan spiritual dapat membantu individu tersebut menuju penyembuhan dan terpenuhinya tujuan dengan atau melalui pemenuhan kebutuhan spiritual. Penelitan menyebutkan seseorang dinyatakan usianya tinggal beberapa bulan, tetapi karena ia memiliki koping yang baik berdasarkan pengalaman agamanya, ia tetap bahagia menjalani hari-harinya dengan bernyanyi dan ceria, membuat puisi-puisi yang indah. Ternyata orang tersebut mampu bertahan hingga bartahun-tahun. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Pressman, menunjukkan bahwa wanita lanjut usia yang menderita farktur tulang pinggul yang kuat religi dan pengalaman agamanya, ternyata lebih kuat mental dan kurang mengeluh, depresi, dan lebih cepat berjalan daripada yang tidak mempunyai komitmen agama.
Contoh ayat Al quran tata krama pergaulan dalam spiritual islam
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al Israa':23)
Dari hal-hal tersebut diatas dapat dikatakan dimensi spiritual menjadi hal penting sebagai aspek perkembangan manusia. Berikut akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konsep kesehatan spiritual.
A. Konsep spiritual
1. Pengertian spiritual
Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spirit memberikan arti penting ke hal apa saja yang sekiranya menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan seseorang. Spiritual adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, dan harapan, melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama.
Spiritual adalah konsep yang unik pada masing-masing individu (Farran et al, 1989). Masing-masing individu memiliki definisi yang berbeda mengenai spiritual, hal ini dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Menurut Emblen, 1992 spiritual sangat sulit untuk didefinisikan. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritual termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan dan eksistensi. Spiritual menghubungkan antara intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri), interpersonal (hubungan antara diri sendiri dan orang lain), dan transpersonal (hubungan antara diri sendiri dengan tuhan/kekuatan gaib). Spiritual adalah suatu kepercayaan dalam hubungan antar manusia dengan beberapa kekuatan diatasnya, kreatif, kemuliaan atau sumber energi serta spiritual juga merupakan pencarian arti dalam kehidupan dan pengembangan dari nilai-nilai dan sistem kepercayaan seseorang yang mana akan terjadi konflik bila pemahamannya dibatasi. (Hanafi, djuariah. 2005).
2. Karakteristik spiritual
Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal, timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan.
Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:
a) Kepercayaan
b) Pemaafan
c) Cinta dan hubungan
d) Keyakinan, kreativitas dan harapan
e) Maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan
Karakteristik dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengrahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang maladaptif.
B. Pola Normal Spiritual
Pola normal spiritual adalah sesuatu pola yang terintegrasi dan berhubungan dengan dimensi yang lain dalam diri seorang individu. Spiritualitas mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Keyakinan tersebut diketahui sebagai suatu faktor yang kuat dalam penyembuhan dan pemulihan fisik. Setiap individu memiliki definisi dan konsep yang berbeda mengenai spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritualitas termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan, dan eksistensi. Setiap individu memiliki pemahaman tersendiri mengenai spiritualitas karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal tersebur. Perbedaan definisi dan konsep spiritualitas dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup seseorang, serta persepsi mereka tentang hidup dan kehidupan. Pengaruh tersebut nantinya dapat mengubah pandangan seseorang mengenai konsep spiritulitas dalam dirinya sesuai dengan pemahaman yang ia miliki dan keyakinan yang ia pegang teguh.
Konsep spiritual memiliki arti yang berbeda dengan konsep religius. Kedua hal tersebut memang sering digunakan secara bersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. Konsep religius biasanya berkaitan dengan pelaksanaan suatu kegiatan atau proses melakukan suatu tindakan. Konsep religius merupakan suatu sistem penyatuan yang spesifik mengenai praktik yang berkaitan bentuk ibadah tertentu. Emblen dalam Potter dan Perry mendefinisikan religi sebagai suatu sistem keyakinan dan ibadah terorganisasi yang dipraktikan seseorang secara jelas menunjukkan spiritualitas mereka.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa religi adalah proses pelaksanaan suatu kegiatan ibadah yang berkaitan dengan keyakinan tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan spiritualitas diri mereka. Sedangkan spiritual memiliki konsep yang lebih umum mengenai keyakinan seseorang. Terlepas dari prosesi ibadah yang dilakukan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan tersebut. Konsep spiritual berkaitan berkaitan dengan nilai, keyakinan, dan kepercayaan seseorang. Kepercayaan itu sendiri memiliki cakupan mulai dari atheisme (penolakan terhadap keberadaan Tuhan) hingga agnotisme (percaya bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi) atau theism (Keyakinan akan Tuhan dalam bentuk personal tanpa bentuk fisik) seperti dalam Kristen dan Islam. Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dari suatu kepercayaan seorang individu.
Keyakinan mendasari seseorang untuk bertindak atau berpikir sesuai dengan kepercayaan yang ia ikuti. Keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan biasanya dikaitkan dengan istilah agama. Di dunia ini, banyak agama yang dianut oleh masyarakat sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Tiap agama yang ada di dunia memiliki karakteristik yang berbeda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan sesuai dengan prinsip yang mereka pegang teguh. Keyakinan tersebut juga mempengaruhi seorang individu untuk menilai sesuatu yang ada sesuai dengan makna dan filosofi yang diyakininya. Sebagai contoh, persepsi seorang Muslim mengenai psikologi kesehatan dan respon penyakit tentunya berbeda dengan persepsi seorang Budhis. Semua itu tergantung konsep spiritual yang dipahami sesuai dengan keyakinan dan keimanan seorang individu.
Ada beberapa contoh islam yang menerapkan pola normal spiritualnya dengan cara:
1. Pola orang tua mengajarkan anak untuk melaksanakan sholat
2. Pola orang tua memberikan tauladhan untuk menghormati orang yang lebih tua
3. Pola normal orang tua dalam memanfaatkan waktu untuk mengaji bersama anak dalam keluarga
Gambar 1. Pola normal spiritual
Bahkan Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Lebih lanjut dikatakannya bahwa keimanan diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik, yang tidak dapat diukur.
C. Perkembangan Aspek Spiritual
Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi.
Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia. Perkembangan spiritual pada anak sangatlah penting untuk diperhatikan.
1. Individu yang berusia antara 0-18 bulan,
Bayi yang sedang dalam proses tumbuh kembang, yang mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri. Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Haber (1987) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi.
2. Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun).
Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima pengalaman-pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual.
3. Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super ego.
Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masih kesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya.
4. Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak (6-12 tahun).
Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka.
5. Remaja (12-18 tahun).
Pada tahap ini individu sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.
6. Dewasa muda (18-25 tahun).
Pada tahap ini individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa.
7. Dewasa pertengahan (25-38 tahun).
Dewasa pertenghan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual.
8. Dewasa akhir (38-65 tahun).
Periode perkembangan spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat.
9. Lanjut usia (65 tahun sampai kematian).
Pada tahap perkembangan ini, menurut Haber (1987) pada masa ini walaupun membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain. Riset membuktikan orang yang agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan kehidupan lebih baik. Bagi lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas pada proses bukan pada kematian itu sendiri.
Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan manusia. Karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan tingkat pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan keyaninan mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap perkembangan individu menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual yang berbeda.
D. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Spiritual
Spiritual adalah komponen penting dari seorang individu yang dimiliki dan sebuah aspek integral dari filosofi holistik. Perkambangan spiritual pasti mengalami keadaan yang tidak selalu baik seperti halnya fisik. Secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa hal yang mempengaruhi perkembangan spiritual. Spiritualitas tidak selalu berkaitan dengan agama, tetapi spiritualitas adalah bagaimana seseorang memahami keberadaannya dan hubungannya dengan alam semesta. Orang-orang mengartikan spiritualitas dengan berbagai cara dan tujuan tersendiri. Setiap agama menyatakan bahwa manusia ada dibawah kuasa Tuhan. Namun, dari semua itu setiap manusia berusaha untuk mengkontrol spiritualitasnya. Inilah yang disebut dengan menjaga kesehatan spiritual.
Hal terpenting yang mempengaruhi perkembangan spiritual dan sebaiknya kita jaga adalah nutrisi spiritual. Hal ini termasuk mendengarkan hal-hal positif dan pesan-pesan penuh kasih serta memenuhi kewajiban keagaman yang dianut. Selain itu juga dengan mengamati keindahan dan keajaiban dunia ini dapat memberikan nutrisi spiritual. Menilai keindahan alam dapat menjadi makanan bagi jiwa kita. Bahkan serangga yang terlihat buruk pun adalah sebuah keajaiban untuk diamati dan dinilai.
Kedamaian dengan meditasi adalah bentuk lain untuk mendapatkan nutrisi spiritual. Hal itu bukanlah meminta Tuhan kita apa yang kita inginkan tetapi mencari keheningan untuk merekleksikan dan berterima kasih atas apa pun yang telah kita terima. Hal lain yang mempengaruhi perkembangan spiritual kita adalah latihan. Tidak hanya latihan dasar untuk kesehatan tubuh, tetapi juga latihan spiritual untuk menjaga spiritual. Latihan ini terdiri dari penggunaan jiwa kita. Sehingga latihan tersebut memberi sentuhan pada jiwa kita dan digunakan untuk menuntun kita untuk bertingkah-laku dengan baik, untuk menunjukan cinta kasih dan perasaan pada oring lain untuk memahami dan untuk mencari kedamaian. Faktor lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah lingkungan. Hal ini dikarenakan lingkungan dimana kita hidup adalah somber utama kejahatan ynag dapat mempengaruhi jiwa kita. Kita harus waspada untuk menghindari keburukan yang berasal dari lingkungan kita dan mencari hal positif yang dapat diambil.
Tantangan yang dapat mengancam perkembangan spiritual kita dapat berasal dari luar maupun dari dalam dari kita. Ancaman dari luar dikarenakan setiap orang memiliki bentuk penularan spiritual yang menyebarkan penyakit spiritual kepada orang lain disekitar mereka. Beberapa orang merusak moral dan mencoba untuk menarik orang lain untuk mengikuti kepercayaannya. Beberapa agama memberikan bekal keimanan yang cukup untuk menolak kepercayaan lain. Banyak orang-orang yang melakukan hal-hal yang buruk dan jahat. Kemudian mempengaruhi orang lain untuk mengikuti hal-hal buruk yang dilakukan. Keinginan untuk melakukan hal-hal buruk tersebut timbul dari keinginan diri sendiri. Jadi, Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah nutrisi, latihan dan lingkungan tempat tinggal. Selain itu, terdapat ancaman dari luar maupun dari dalam diri kita. Sehingga kita harus pandai-pandai untuk menjaga kesehatan spiritual kita.
E. Perubahan Fungsi Spiritual
Perilaku individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme dalam kehidupaannya. Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Spiritual adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, harapan, dan melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan, memenuhi kewajiban agama, dan kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan. Masalah spiritual ketika penyakit, kehilangan, dan nyeri menyerang seseorang.
Kekuatan spiritual dapat membantu seseorang ke arah perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual. Individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup. Perubahan perilaku mungkin menjadi perwujudan dari disfungsi spiritual. Manusia yang gelisah tentang hasil tes diagnosa atau yang menunjukan kemarahan setelah mendengar hasil mungkin menjadi menderita distresss spiritual. Orang menjadi lebih merenung, berupaya untuk memperhitungkan situasi dan mencari fakta bacaan yang berlaku. Beberapa reaksi emosional, mencari informasi, dan dukungan dari teman dan keluarga. Pengenalan dari masalah, kemungkinan yang timbul tidak bisa tidur atau kekurangan konsentrasi. Kesalahan, ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan kecemasan juga mungkin menjadi indikasi perubahan fungsi spiritual.
Ekspresi adaptif dan malaadaptif dari kebutuhan spiritual dapat dilihat tabel bawah ini:
No. Ekspresi Contoh ekspresi adaptif maladaptif
1. Kepercayaan (Kepercayaan diri dan memiliki daya tahan).
a) Menerima yang lain agar mampu bertemu dengan kebutuhan
b) Kepercayaan dalam hidup
c) Menerima hasil dari hidup
d) Terbuka kepada Tuhan
e) Menunjukan ketidaknyamanan dengan kesadaran diri sendiri
f) Mudah tertipu
g) Merasakan hanya orang dan tempat tertentu saja yang aman
h) Mengharapkan orang menjadi tidak ramah dan tidak dapat dipercaya
i) Tidak sabar
j) Takut akan kehendak Tuhan
2. Pemaafan (Menerima ketidaksempurnaan diri dan lainnya).
a) Tidak menghakimi
b) Memandang penyakit berdasarkan realitas
c) Mengalami pemaafan diri sendiri
d) Menawarkan untuk memaafkan yang lain
e) Menerima pemaafan dari Tuhan
f) Mempunyai pandangan secara realistis di masa lalu - Memandang penyakit sebagai hukuman
g) Percaya Tuhan menghukum
h) Diantara mencela diri sendiri atau mencela pekerjaan
3. Cinta dan hubungan (Mengungkapkan rasa dicintai Tuhan dan lainnya).
a) Menerima bantuan
b) Menerima diri sendiri
c) Mencari kebaikan lainnya
d) Merasa yang lain menghakimi dia
e) Berkelakuan diri sendiri secara deskriptif
f) Menolak untuk kerjasama dengan tim kesehatan
g) Mengkhawatirkan tentang pemisahan dari mencintai seseorang
h) Penolakan diri atau menunjukan salah harga diri dan sifat egois
i) Kekurangan hubungan cinta dengan Tuhan
j) Merasa ada jarak dan terpisahkan dari Tuhan
4. Keyakinan (Menggantungkan kebijakan bersifat illahi kepada Tuhan).
a) Motivasi terhadap pertumbuhan
b) Mengungkapkan kepuasan dengan keterangan dari hidup setelah mati
c) Mengungkapkan kebutuhan untuk masuk kedalam naungan besar dari drama cerita manusia
d) Mengungkapkan kebutuhan tanda, ritual
e) Mengungkapkan kebutuhan dari makna untuk membagi kepada komunitas seiman
f) Mengungkapkan dua perasaan yang saling bertentangan tentang Tuhan
g) Kekurangan iman di luar batas kewajaran kekuatan atau Tuhan
h) Ketakutan mati atau hidup setelah mati
i) Putus asa, dan marah dengan Tuhan
j) Ketidakjelasan nilai, kepercayaan, dan tujuan
k) Konflik nilai
l) Kekurangan komitmen
5. Kreativitas dan harapan (Bertanya informasi tentang kondisi).
a) Berbicara tentang kondisi realistis
b) Menggunakan waktu dengan yang bermanfaat
c) Mencari jalan untuk menunjukan diri sendiri
d) Lebih suka menemukan kenyamanan di dalam diri daripada fisik diri atau kriteria duniawi
e) Mengungkapkan harapan dimasa depan
f) Terbuka terhadap kemungkinaan dari ketentraman
g) Mengungkapkan ketakutan dari kehilangan kontrol
h) Mengungkapkan kebosanan
i) Kekurangan visi dari kemungkinan alternatif
j) Ketakutan terapi
k) Keputusasaan
l) Tidak dapat membantu diri sendiri atau menerima diri
m) Tidak dapat menikmati apapun
n) Meletakkan hidup atau keputusan besar di genggaman
6. Maksud dan tujuan (Mengungkapkan kepuasan hidup).
a) inggal hidup di kesepakatan dengan sistem nilai
b) Menerima atau memanfaatkan penderitaan untuk mengerti diri sendiri
c) Mengungkapkan maksud hidup atau mati
d) Mengungkapkan komitmen dan tujuan akhir orientasi
e) Mempunyai makna jelas dari apa yang penting
f) Mengungkapkan tidak ada tujuan untuk hidup
g) Menemukan tidak ada maksud dalam penderitaan
h) Mempertanyakan maksud penderitaan
i) Mempertanyakan tujuan dari penyakit
j) Tidak dapat membentuk tujuan akhir atau mempunyai tujuan akhir tak bisa dicapai
k) Mencaci maki obat atau alkohol
l) Bercanda tentang hidup setelah kematian
7. Anugrah atau Karunia (Hidup di pergerakan)
a) Merasakan berkat dan kemewahan
b) Merasakan anugrah yang diberikan di akhirat kepada diri dari Tuhan
c) Merasakan ketentraman atau kebulatan hati
d) Cemas tentang masa lalu dan masa depan
e) Berorientasi kearah penghargaan atau hasil
f) Fokus pada penyesalan
Pembahasan diatas menggambarkan kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Perubahan fungsi spiritualitas sering terjadi dalam kehidupan. Oleh karena itu, perubahan fungsi spiritualitas manusia perlu dipahami secara benar.
“Sirkuit spiritual Pada Otak”
F. Perkembangan Spiritual Anak
• “The available empirical studies on developmental processes that are part or religiousness across the lifespan have, for the most part, stopped at the end of adolescence. Part of this “invitation,” therefore, is for you to extend this research.”
• “Studi empiris yang tersedia pada proses perkembangan yang merupakan bagian dari kereligiusan di seluruh tahap kehidupan, sebagian besar, berhenti di akhir masa remaja. Oleh karena itu, bagian dari ‘usulan’ ini ditujukan kepada Anda agar melakukan penelitian lebih lanjut.”
G. Runtuhnya Tabularasa Jhon Locke
• “Do not assume from what I have already said that a child of this age has a mind like a blank sheet of paper, or an empty vessel that will be gradually fild up, Absorbing indiscriminately during this period is active, rather than passive.” “
• Jangan menganggap bahwa pikiran seorang anak itu seperti kertas putih, atau bejana kosong, yang secara gradual diisi, yang secara sembarangan tanpa pemilahan menyerap sesuatu dari dunia luar, proses penyerapan pada periode ini lebih bersifat aktif dari pada pasif.”
H. Makna agama bagi anak
Embrio Munculnya Agama Pada Anak
• “…term God for a young child is likely to mean big person. If God is called Father, the child thinks in terms of an oversized, more powerful father who is basically similar to the child’s actual father.
• “…Istilah Tuhan untuk anak-anak cenderung berarti orang besar. Jika Tuhan disebut Bapa, anak berpikir dalam hal yang besar, ayah yang lebih kuat yang pada dasarnya sama dengan ayah anak yang sebenarnya.”
I. Pandangan Tokoh Barat
“Penemuan pasangan Gluecks yang pertama ialah bahwa kenakalan remaja bukan fenomena baru dari masa remaja melainkan suatu lanjutan dari pola perilaku asosiasi yang mulai pada masa kanak-kanak. Pasangan Gluecks menyatakan bahwa sudah semenjak usia 2-3 tahun ada kemungkinan mengenali anak yang kelak menjadi remaja yag nakal.
J. Pandangan Tokoh Islam
Menurut Ahmad Tafsir anak yang tidak dikembangkan aspek moral-keagamaannya, maka kelak di masa dewasa akan menjadi orang yang relatif sulit dididik untuk beragama.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Spiritual berkaitan erat dengan dimensi lain dan dapat dicapai jika terjadi keseimbangan dengan dimensi lain ( fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural). Spiritual sangat berpengaruh terhadap koping yang dimiliki individu. Semakin tinggi tingkat spiritual individu, maka koping yang dimiliki oleh individu tersebut juga akan semakin meningkat. Sehingga mampu meningkatkan respon adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut. Peran pendidik adalah bagaimana mampu mendorong manusia untuk meningkatkan spiritualitasnya dalam berbagai kondisi, Sehingga manusia mampu menghadapi, menerima dan mempersiapkan diri terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut.
B. Saran
Peningkatan spiritualitas dalam diri setiap individu sangat penting untuk diupayakan. Upaya untuk melakukan peningkatan spiritualitas dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan latihan yoga dan melakukan meditasi. Penting juga diperhatikan pemenuhan nutrisi spiritual. Hal tersebut tentunya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, akan lebih baik jika dilaksanakan secara berkesinambungan. Dengan meningkatkan spiritualitas dalam diri, maka koping yang kita miliki juga akan meningkat. Sehingga mampu berperilaku dan mempertahankan kondisi yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosda
Gunarsa, Singgih. 1981. Psikologi Remaja. Jakarta: Gunung Mulia
Hurlock, Elizabeth B. 1993. Perkembangan anak. Jakarta: Erlangga
Kartono, Kartini. 1979. Psikologi Anak. Bandung: Alumni
Nugroho, Trinoval Yanto, dalam Nugroho,http://www.trinoval.web.id/2010/07/perkembangan-spiritual-pada-dewasa_15.html di akses hari jum’at, 24 Desember 2010, 16.10 wib
Sarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: Sinar Grafika Offset
Susi Purwati, dalam http://susipurwati.blogspot.com/2010/01/konsep-kesehatan-spiritual.html Di akses hari Jum’at, 24 Desember 2010, 15.49 wib
Uno, Hamzah. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Selasa, 04 Januari 2011
penantian
Nikita Willy-Kutetap Menanti
Nikita Willy- Kutetap Menanti
Meski dirimu bukan milikku
Namun hatiku tetap untukmu
Berjuta pilihan disisiku
Takkan bisa mengantikanmu
Walau badai menerpa
Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu menjadi yang terbaik
Dan masih menjadi yang terbaik
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku
Biarkan waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu ku tetap menanti
Walau badai menerpa
Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu jadi yang terbaik
Dan masih jadi yang terbaik
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku
Biarkan waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu ku tetap menanti
Penantian panjang
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya hanya untukku
Biarkan waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu ku tetap menanti
Cintaku padamu..
Ku tetap menanti
Meski dirimu bukan milikku
Namun hatiku tetap untukmu
Popularity: 39% [?]
Artikel
href="http://laguonline.com/n/nikita-willy/nikita-willykutetap-menanti">Nikita Willy-Kutetap Menanti Ini Dipersembahkan Oleh
href="http://laguonline.com" title="Lirik lagu,video klip,dan chord gitar lagu indonesia terbaru">Lirik lagu,video klip,dan chord gitar lagu indonesia terbaru. Kunjungi
toko tas online
Untuk Belanja tasetnik,tas anak, dan tas laptop.
Selasa, 28 Desember 2010
puisi
TEMA: KEHIDUPAN RELIGI DALAM BERBUDAYA
Ingat..
Assalamu’alaikum
Jangan memuji kecantikan Langit
Tapi pujilah Allah
Yang menciptakan Alam semesta
Jangan percaya
Denga kata-kata bijakku
Tapi percayalah Firman Allah yang Maha Mulia
Jangan masukkan namaku di hatimu
Tapi masukkan nama Allah
Hingga hatimu tenang
Jangan sedih cintamu di dustakan
Tapi sedihlah jika engkau dustakan Allah
Jangan pula engkau minta cinta kepada penyair
Tapi Minolta cinta Allah
yg memiliki cinta yg kekal dan sejati
Ya Allah yang Maha Pengasih & Penyanyang
Jangan jadikan hatiku batu yg mengeras
Hingga lupa akan rahmatMu
Ingat..
Assalamu’alaikum
Jangan memuji kecantikan Langit
Tapi pujilah Allah
Yang menciptakan Alam semesta
Jangan percaya
Denga kata-kata bijakku
Tapi percayalah Firman Allah yang Maha Mulia
Jangan masukkan namaku di hatimu
Tapi masukkan nama Allah
Hingga hatimu tenang
Jangan sedih cintamu di dustakan
Tapi sedihlah jika engkau dustakan Allah
Jangan pula engkau minta cinta kepada penyair
Tapi Minolta cinta Allah
yg memiliki cinta yg kekal dan sejati
Ya Allah yang Maha Pengasih & Penyanyang
Jangan jadikan hatiku batu yg mengeras
Hingga lupa akan rahmatMu
cerita pendek
Tema : Kehidupan Religi dalam Berbudaya
Harga Wanita
Senja itu angin semilir semakin kencang. Situasi masjid lengang tidak seperti biasa. Hatiku kokoh untuk tetap berangkat berjamaah bersama santri-santri lain yang tetap berangkat untuk menunaikan sholat maghrib. Ya Alloh ya Tuhan.. Tuntunkanlah hamba disetiap jalan yang Engkau ridhoi. Usai sholat selalu ku panjatkan do’a sebelum zikirku kepada Rosululloh. Kenapa Kau anugrahkan rasa yang luar biasa kepada hamba ya Alloh, kenapa Kau beri rasa kepadaku untuk mencintai yang bukan milikku ya Alloh. Yang belum menjadi milikku dan haram bagiku. Tapi rasa itu begitu indah. Begitu menyejukan dan membuat damai isi hati ini, dikala ku melihatnya melihat senyumnya.
Mukena ku bereskan dan bergegas menuju kamar, terlintas terdengar alunan suara dia mengaji, hatiku bergetar hebat, nafas ini sesak dan tubuh ini seakan melayang hebat. Dengan selesainya wisuda bulan kemarin, rasa penasaranku pada lelaki itu semakin dalam. Ya Alloh .. Andai nanti jodohku. Betapa bahagianya hidupku nanti. Betapa sempurnanya hidupku dengannya. Subhanalloh . apa yang hamba fikirkan. Tapi ini hanya mimpi, dia lelaki sholeh, tak mungkin mau denganku.
Esok harinya, aku biasa berangkat bekerja dengan motor bututku, maklum hanya sebagai guru honorer yang tak cukup untuk bermewah. Hari ku lalui seperti hari biasanya. Tapi ini ada yang tak biasa, ban motorku bocor. Diperjalanan ku terus menuntunnya menelusuri jalan yang panas, tambal ban yang biasa buka sekarang tutup. Ada mobil Aerio Merah melintas cepat. Betapa kesalnya batinku melihat rianya orang yang memakai mobil. Tanpa sadar sambilku melamun. Mobil merah tadi berjalan pelan disampingku. Dan berhenti. Kemudian lelaki itu turun, membantuku membawakan motorku sampai kebengkel. Betapa lembut hatinya, selembut salju, ternyata dugaanku meleset. Ternyata kaulah lelaki pujaanku selama ini, hatimu selembut salju, kau mas Rif’at.
Setiap agendaku, selalu ku isi dengan kebaikan-kebaikan dan segalanya tentang Rif’at. Tak tahu asalnya bu Nyai memanggilku ke ndalem nya. Hatiku berdandan ala kadarnya. Ternyata diruang tamu bu Nyai sudah ba hanyak tamu. Tentu Pak Kyai, Bapak yang setengah baya dengan busana sopan dan ibu yang halus tutur katanya. Langsung kepokok, pak kyai langsung memulai pembicaraan, aku yang tidak tau ini acara apa dan untuk apa. Aku dikasih pertanyaan dari pak kyai.
Laila..umur kau sudah mencukupi, tak terbesitkah dalam benakmu untuk berumah tangga, dan Bapak mendapat tamu dari solo?
Mereka akan meminangmu, Laila.. kau sudah ku anggap seperti anak sendiri, dan saya tau yang apa yang kau butuhkan dari pertama kau masuk Tsanawiyah di Pesantren bapak ini. Masalah ini tidak perlu kau jawab sekarang, bisa kau pikirkan matang-matang dulu. Dan mintalah izin orangtua kamu di Palembang.
Kelopak-kelopak bunga mawar berjatuhan dihatiku, betapa indah dunia ini ku rasa. Ya Alloh ini bukan mimpi. Mas Rif’at melamarku. Subhanallah..
Setelah semuanya berkemas. Bergegas pula ku menelpon Ayah Ibu ku dikampung halaman nan jauh disana. Sepontan mereka setuju. Karena memang orang tuaku mengamanatkan diriku kepada Bu De Rumi yaitu Bu Nyai. Tak lama berselangpun aku mengatakan setuju kepada Bu Nyai. Mungkin mereka yang merencanakan ini itunya. Aku hanya diam. Sebelum ku tidur terdengar telepon berdering, dengan hati terpaksa, ku angkat. Alangkah indah suara yang ku dengar itu begitu familier ditelingaku, ternyata Rif’at yang berani pertama kalinya menyatakan seluruh isi hatinya lewat telepon dn merencanakan hari tanggal pernikahan, diam-diam mas Rif’at sudah mengagumiku sejak awal aliah. Karena buku aku yang jelas waktu itu agen da aku yang terbawa. Betapa malunya diriku kepadanya. Tapi tak apalah namanya juga remaja yang penuh perasaan berliku-liku dan ku tulis selalu diagenda. Sejak itu Rif’at begitu jatuh cinta kepada kata-kata yang terangkai di agenda itu. Katanya ku pantas menjadi penulis, karena kata-kataku pantas dipasarkan.
Dihari pernikahan kami. Hampir semua saudaraku dari Palembang datang termasuk Ayah dan Ibuku. Semua tamu undangan berbusana rapi. Acara akad nikahpun berlangsung dengan hikmat. Dan pertama kalinya. Diri ini duduk sangat dekat dengan mas Rif’at. Jantung hatiku terus bergetar mengiri lantunan lagu yang sedang berdendang.
Kebahagiaan yang tak terungkap statusku sudah menikah mempunyai suami dan aku menjadi seorang istri. Subhanallah.. syukurku selalu ku panjatkan pada-Mu ya Rab..
Satu tahun berselang. Rasa kangen kepada keluargaku dikampung halaman tak terbendungkan. Dengan halusku meminta izin kepada suamiku.
Mas Rif’at sayang.. aku kangen sekali ibu.. aku kangen sekali bapak.. setahun yang lalu pas pernikahan kita, mereka hanya sebentar disini, dan tak sempat bersendagurau bersama. Tolong izinkan aku mas.. menengok kampung halamanku..Cuma 2 pekan saja suamiku.. aku akan kembali..
Dengan hati memelas, mas Rif’at dengan tenang mengizinkan aku pulang ke Palembang. Kesibukan mas Rif’at yang padat dan tidak dapat ditinggalkan. Aku berangkat sendiri. Mas Rif’at hanya mengantarku sampai ke agen bus. Suamiku memelukku, mencium keningku dan ku cium tangannya. Dalam hati aku akan cepat kembali.
“Istriku.. hati-hati terus dijalan, jangan lupa selalu berzikir dan selalu ingat kepadaNya,.” Itulah nasihat Mas Rif’at kepadaku.
Bus melaju dengan cepat. Sepuluh jam berselang. Tak paham aku sudah sampai mana. Tiba-tiba dari arah depan ada truk oleng yang cepat menabrak bus yang aku tunggangi. Entah apa yang terjadi semua gelap.
Di suatu rumah sakit didaerah Bandung. Terbaring perempuan cantik dengan luka yang cukup serius. Tetapi dengan kuasa Allah, perempuan itu selamat dari kecelakaan maut yang di alaminya tadi. Dengan luka dikepala yang cukup serius dikepala semakin membaik. Dokter pun menanyakan kepada si perempuan itu. Nama, asal dan keluarga? Tetapi perempuan tersebut tidak bisa menjawab satu pertanyaanpun dari dokter, hanya kalimat Allah lah yang selalu ia ucapkan. Tapi identitas yang masih utuh tersimpan rapi ditasnya. Identitas tanda pengenalnya dan alamat orangtuanya yang di Palembang. Tanpa pikir panjang. Pihak rumah sakit langsung memberi kabar kepada saudaranya. Yang terdapat dalam alamat tersebut.
Hari berselang terus. Laila juga semakin pulih, didekat rumah sakit terdapat masjid yang cukup besar, laila sering menjalankan sholat dimasjid itu. Lama-kelamaan Laila akrab dengan warga disekitar masjid itu. Akhirnya laila diperbolehkan tunggal di tempat keluarga Pak Karto yang merawat juga Iman masjid tersebut.
Dilain tempat, suami Laila cemas menanti kabar istrinya yang sudah 4 hari belum memberi kabar. Tiba-tiba telepon berdering. Ternyata dari orangtua Laila. Hatinya agak sedikit tenang. Tapi ternyata kabar lain yang didapat. Laila belum juga sampai Palembang. Dan orangtuanya memberikan alamat yang diberikan kepada dokter kepadanya. Hati cemas mengguyur tubuh Rif’at. Sudah beberapa hari ini selalu menghubungi istrinya tetapi tidak nyambung. Begitu dibaca ulang alamat yang harus ia cari untuk menemukan istrinya adalah Rumah Sakit. Hati nyilu menyelimuti perjalanan Rif’at. Dengan keadaan yang tidak memungkinkan Rif’at ditemani tiga temannya yaitu Fadil, Dani dan Ramlan.
Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam haripun berganti. Sesuai petunjuk alamat tersebut. Rumah Sakit tersebut tengah didepannya. Tak pikir panjang menanyakan keberadaan Laila. Dan ternyata dalam keadaan sehat wal’afiat dirumah Pak Karto. Atas penjelasan Pak Karto, ia memang Laila tapi dia tidak mengenal nama keluarganya dan tadinya juga tidak tau namanya. Laila perempuan yang sangat baik, disini dia selalu mengajari anak-anak mengaji, masyarakat sini pun senang dengan adanya neng Laila didaerah kami.
Rif’at meneteskan air matanya begitu mendengar Pak Karto bertutur, sungguh mengenaskannya, bisa bertemu dengan istrinya tidak bisa memeluk dan menciumnya. Dengan keadaan yang tidak memungkinkan membawa Laila kembali, Rif’at dan kawan-kawan juga tidak langsung pulang. Dengan izin ke Pak Karto bahwa Rif’at akan menikahi Laila lagi, walaupun Laila adalah istrinya. Pak Karto juga langsung memberi tahu Laila dbahwa dirinya dilamar oleh Rif’at pemuda yang tampan, baik dan kaya. Tetapi Laila tetap menolak.
Diwaktu pagi itu ketika Laila berjalan kepasar, tas yang dibawanya dicobet dan langsung dibawa lari oleh pencopet tersebut. Tak lama Rif’at datang menolongnya dan menghajar pencopet itu hingga babak belur.
Atas kejadian itu, Laila luluh hatinya dan mau dipersunting oleh Rif’at. Dan Laila mau dibawa ke Jogja, kerumah Rif’at bersama Rif’at seorang karena teman-temannya sudah pulang lebih dulu karena banyak keperluan . Dengan syarat yang diucapkan Laila kepada Rif’at, walaupun aku jadi istri kamu, kamu tidak akan bisa mendapatkan cintaku karena setiaku cintaku hanya untuk suamiku dan kamu hanya mendapatkan fisik aku saja setelah aku khatam 30 juz Alqur’an. Dengan syarat apapun yang diajukan Laila. Semua tak akan menjadi masalah. Juga Rif’at memerintahakan Laila tidak akan membuka kamar kerjanya setelah khatam Alqur’an.
Rif’at selalu rajin membuka Alqu’an yang dibaca istrinya, untuk memantau sudah sejauh mana memabacanya. Suatu ketika Rif’at mengajak istrinya pada suatu acara. Tanpa sengaja di acara itu Laila melihat copet yang dipasar tersebut adalah teman suaminya. Laila juga sangat marah ketika suaminya hanya mencari perhatiannya saja untuk mendapati kan dirinya. Dengan perlakuan itu hati Rif’at hancur berkeping-keping.
Aku ini suamimu... suami yang kau cintai dan kau setiai...tapi kata-kata itu hanya bergumam dihati Rif’at saja.
Laila pun minta perceraian. Betap pilu hati dan jiwa Rif’at mendengarnya. Dia hanya pasrah Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuknya. Sehingga hari-hari Rif’at dilalui berdiam diri dimasjid mencari ketenangan. Dengan menangis, dengan sujud berulang Rif’at lakukan. Laila dirumah yang kesal dengan suaminya, berniat ingin pergi. Tetapi ia ingin menulis surat untuknya, dia mencari bolpoin dan kertas sampai keruang kerjanya Rif’at. Dengan emosi mencari-cari kunci dan perlahan membuka pintu ruang kerja Rif’at. Suatu pemandangan yang pertama ia lihat adalah gambar dirinya dan Rif’at foto pernikahannya dahulu, dan agenda-agenda indah yang tertumpuk dimeja kerja Rif’at. Yang berisi tulisan-tulisan indah miliknya, milik Laila yang tersimpan rapi dimeja Rif’at. Dengan haru Laila memeluk buku agenda-agenda itu sambil meneteskan air mata. Dan bersujud sukur kelantai.
Dosakah hamba ya Allah yang berdurhaka kepada suami hamba.. Ampukanlah dosa Hamba..
Yogyakarta, 27 Oktober 2010
Harga Wanita
Senja itu angin semilir semakin kencang. Situasi masjid lengang tidak seperti biasa. Hatiku kokoh untuk tetap berangkat berjamaah bersama santri-santri lain yang tetap berangkat untuk menunaikan sholat maghrib. Ya Alloh ya Tuhan.. Tuntunkanlah hamba disetiap jalan yang Engkau ridhoi. Usai sholat selalu ku panjatkan do’a sebelum zikirku kepada Rosululloh. Kenapa Kau anugrahkan rasa yang luar biasa kepada hamba ya Alloh, kenapa Kau beri rasa kepadaku untuk mencintai yang bukan milikku ya Alloh. Yang belum menjadi milikku dan haram bagiku. Tapi rasa itu begitu indah. Begitu menyejukan dan membuat damai isi hati ini, dikala ku melihatnya melihat senyumnya.
Mukena ku bereskan dan bergegas menuju kamar, terlintas terdengar alunan suara dia mengaji, hatiku bergetar hebat, nafas ini sesak dan tubuh ini seakan melayang hebat. Dengan selesainya wisuda bulan kemarin, rasa penasaranku pada lelaki itu semakin dalam. Ya Alloh .. Andai nanti jodohku. Betapa bahagianya hidupku nanti. Betapa sempurnanya hidupku dengannya. Subhanalloh . apa yang hamba fikirkan. Tapi ini hanya mimpi, dia lelaki sholeh, tak mungkin mau denganku.
Esok harinya, aku biasa berangkat bekerja dengan motor bututku, maklum hanya sebagai guru honorer yang tak cukup untuk bermewah. Hari ku lalui seperti hari biasanya. Tapi ini ada yang tak biasa, ban motorku bocor. Diperjalanan ku terus menuntunnya menelusuri jalan yang panas, tambal ban yang biasa buka sekarang tutup. Ada mobil Aerio Merah melintas cepat. Betapa kesalnya batinku melihat rianya orang yang memakai mobil. Tanpa sadar sambilku melamun. Mobil merah tadi berjalan pelan disampingku. Dan berhenti. Kemudian lelaki itu turun, membantuku membawakan motorku sampai kebengkel. Betapa lembut hatinya, selembut salju, ternyata dugaanku meleset. Ternyata kaulah lelaki pujaanku selama ini, hatimu selembut salju, kau mas Rif’at.
Setiap agendaku, selalu ku isi dengan kebaikan-kebaikan dan segalanya tentang Rif’at. Tak tahu asalnya bu Nyai memanggilku ke ndalem nya. Hatiku berdandan ala kadarnya. Ternyata diruang tamu bu Nyai sudah ba hanyak tamu. Tentu Pak Kyai, Bapak yang setengah baya dengan busana sopan dan ibu yang halus tutur katanya. Langsung kepokok, pak kyai langsung memulai pembicaraan, aku yang tidak tau ini acara apa dan untuk apa. Aku dikasih pertanyaan dari pak kyai.
Laila..umur kau sudah mencukupi, tak terbesitkah dalam benakmu untuk berumah tangga, dan Bapak mendapat tamu dari solo?
Mereka akan meminangmu, Laila.. kau sudah ku anggap seperti anak sendiri, dan saya tau yang apa yang kau butuhkan dari pertama kau masuk Tsanawiyah di Pesantren bapak ini. Masalah ini tidak perlu kau jawab sekarang, bisa kau pikirkan matang-matang dulu. Dan mintalah izin orangtua kamu di Palembang.
Kelopak-kelopak bunga mawar berjatuhan dihatiku, betapa indah dunia ini ku rasa. Ya Alloh ini bukan mimpi. Mas Rif’at melamarku. Subhanallah..
Setelah semuanya berkemas. Bergegas pula ku menelpon Ayah Ibu ku dikampung halaman nan jauh disana. Sepontan mereka setuju. Karena memang orang tuaku mengamanatkan diriku kepada Bu De Rumi yaitu Bu Nyai. Tak lama berselangpun aku mengatakan setuju kepada Bu Nyai. Mungkin mereka yang merencanakan ini itunya. Aku hanya diam. Sebelum ku tidur terdengar telepon berdering, dengan hati terpaksa, ku angkat. Alangkah indah suara yang ku dengar itu begitu familier ditelingaku, ternyata Rif’at yang berani pertama kalinya menyatakan seluruh isi hatinya lewat telepon dn merencanakan hari tanggal pernikahan, diam-diam mas Rif’at sudah mengagumiku sejak awal aliah. Karena buku aku yang jelas waktu itu agen da aku yang terbawa. Betapa malunya diriku kepadanya. Tapi tak apalah namanya juga remaja yang penuh perasaan berliku-liku dan ku tulis selalu diagenda. Sejak itu Rif’at begitu jatuh cinta kepada kata-kata yang terangkai di agenda itu. Katanya ku pantas menjadi penulis, karena kata-kataku pantas dipasarkan.
Dihari pernikahan kami. Hampir semua saudaraku dari Palembang datang termasuk Ayah dan Ibuku. Semua tamu undangan berbusana rapi. Acara akad nikahpun berlangsung dengan hikmat. Dan pertama kalinya. Diri ini duduk sangat dekat dengan mas Rif’at. Jantung hatiku terus bergetar mengiri lantunan lagu yang sedang berdendang.
Kebahagiaan yang tak terungkap statusku sudah menikah mempunyai suami dan aku menjadi seorang istri. Subhanallah.. syukurku selalu ku panjatkan pada-Mu ya Rab..
Satu tahun berselang. Rasa kangen kepada keluargaku dikampung halaman tak terbendungkan. Dengan halusku meminta izin kepada suamiku.
Mas Rif’at sayang.. aku kangen sekali ibu.. aku kangen sekali bapak.. setahun yang lalu pas pernikahan kita, mereka hanya sebentar disini, dan tak sempat bersendagurau bersama. Tolong izinkan aku mas.. menengok kampung halamanku..Cuma 2 pekan saja suamiku.. aku akan kembali..
Dengan hati memelas, mas Rif’at dengan tenang mengizinkan aku pulang ke Palembang. Kesibukan mas Rif’at yang padat dan tidak dapat ditinggalkan. Aku berangkat sendiri. Mas Rif’at hanya mengantarku sampai ke agen bus. Suamiku memelukku, mencium keningku dan ku cium tangannya. Dalam hati aku akan cepat kembali.
“Istriku.. hati-hati terus dijalan, jangan lupa selalu berzikir dan selalu ingat kepadaNya,.” Itulah nasihat Mas Rif’at kepadaku.
Bus melaju dengan cepat. Sepuluh jam berselang. Tak paham aku sudah sampai mana. Tiba-tiba dari arah depan ada truk oleng yang cepat menabrak bus yang aku tunggangi. Entah apa yang terjadi semua gelap.
Di suatu rumah sakit didaerah Bandung. Terbaring perempuan cantik dengan luka yang cukup serius. Tetapi dengan kuasa Allah, perempuan itu selamat dari kecelakaan maut yang di alaminya tadi. Dengan luka dikepala yang cukup serius dikepala semakin membaik. Dokter pun menanyakan kepada si perempuan itu. Nama, asal dan keluarga? Tetapi perempuan tersebut tidak bisa menjawab satu pertanyaanpun dari dokter, hanya kalimat Allah lah yang selalu ia ucapkan. Tapi identitas yang masih utuh tersimpan rapi ditasnya. Identitas tanda pengenalnya dan alamat orangtuanya yang di Palembang. Tanpa pikir panjang. Pihak rumah sakit langsung memberi kabar kepada saudaranya. Yang terdapat dalam alamat tersebut.
Hari berselang terus. Laila juga semakin pulih, didekat rumah sakit terdapat masjid yang cukup besar, laila sering menjalankan sholat dimasjid itu. Lama-kelamaan Laila akrab dengan warga disekitar masjid itu. Akhirnya laila diperbolehkan tunggal di tempat keluarga Pak Karto yang merawat juga Iman masjid tersebut.
Dilain tempat, suami Laila cemas menanti kabar istrinya yang sudah 4 hari belum memberi kabar. Tiba-tiba telepon berdering. Ternyata dari orangtua Laila. Hatinya agak sedikit tenang. Tapi ternyata kabar lain yang didapat. Laila belum juga sampai Palembang. Dan orangtuanya memberikan alamat yang diberikan kepada dokter kepadanya. Hati cemas mengguyur tubuh Rif’at. Sudah beberapa hari ini selalu menghubungi istrinya tetapi tidak nyambung. Begitu dibaca ulang alamat yang harus ia cari untuk menemukan istrinya adalah Rumah Sakit. Hati nyilu menyelimuti perjalanan Rif’at. Dengan keadaan yang tidak memungkinkan Rif’at ditemani tiga temannya yaitu Fadil, Dani dan Ramlan.
Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam haripun berganti. Sesuai petunjuk alamat tersebut. Rumah Sakit tersebut tengah didepannya. Tak pikir panjang menanyakan keberadaan Laila. Dan ternyata dalam keadaan sehat wal’afiat dirumah Pak Karto. Atas penjelasan Pak Karto, ia memang Laila tapi dia tidak mengenal nama keluarganya dan tadinya juga tidak tau namanya. Laila perempuan yang sangat baik, disini dia selalu mengajari anak-anak mengaji, masyarakat sini pun senang dengan adanya neng Laila didaerah kami.
Rif’at meneteskan air matanya begitu mendengar Pak Karto bertutur, sungguh mengenaskannya, bisa bertemu dengan istrinya tidak bisa memeluk dan menciumnya. Dengan keadaan yang tidak memungkinkan membawa Laila kembali, Rif’at dan kawan-kawan juga tidak langsung pulang. Dengan izin ke Pak Karto bahwa Rif’at akan menikahi Laila lagi, walaupun Laila adalah istrinya. Pak Karto juga langsung memberi tahu Laila dbahwa dirinya dilamar oleh Rif’at pemuda yang tampan, baik dan kaya. Tetapi Laila tetap menolak.
Diwaktu pagi itu ketika Laila berjalan kepasar, tas yang dibawanya dicobet dan langsung dibawa lari oleh pencopet tersebut. Tak lama Rif’at datang menolongnya dan menghajar pencopet itu hingga babak belur.
Atas kejadian itu, Laila luluh hatinya dan mau dipersunting oleh Rif’at. Dan Laila mau dibawa ke Jogja, kerumah Rif’at bersama Rif’at seorang karena teman-temannya sudah pulang lebih dulu karena banyak keperluan . Dengan syarat yang diucapkan Laila kepada Rif’at, walaupun aku jadi istri kamu, kamu tidak akan bisa mendapatkan cintaku karena setiaku cintaku hanya untuk suamiku dan kamu hanya mendapatkan fisik aku saja setelah aku khatam 30 juz Alqur’an. Dengan syarat apapun yang diajukan Laila. Semua tak akan menjadi masalah. Juga Rif’at memerintahakan Laila tidak akan membuka kamar kerjanya setelah khatam Alqur’an.
Rif’at selalu rajin membuka Alqu’an yang dibaca istrinya, untuk memantau sudah sejauh mana memabacanya. Suatu ketika Rif’at mengajak istrinya pada suatu acara. Tanpa sengaja di acara itu Laila melihat copet yang dipasar tersebut adalah teman suaminya. Laila juga sangat marah ketika suaminya hanya mencari perhatiannya saja untuk mendapati kan dirinya. Dengan perlakuan itu hati Rif’at hancur berkeping-keping.
Aku ini suamimu... suami yang kau cintai dan kau setiai...tapi kata-kata itu hanya bergumam dihati Rif’at saja.
Laila pun minta perceraian. Betap pilu hati dan jiwa Rif’at mendengarnya. Dia hanya pasrah Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuknya. Sehingga hari-hari Rif’at dilalui berdiam diri dimasjid mencari ketenangan. Dengan menangis, dengan sujud berulang Rif’at lakukan. Laila dirumah yang kesal dengan suaminya, berniat ingin pergi. Tetapi ia ingin menulis surat untuknya, dia mencari bolpoin dan kertas sampai keruang kerjanya Rif’at. Dengan emosi mencari-cari kunci dan perlahan membuka pintu ruang kerja Rif’at. Suatu pemandangan yang pertama ia lihat adalah gambar dirinya dan Rif’at foto pernikahannya dahulu, dan agenda-agenda indah yang tertumpuk dimeja kerja Rif’at. Yang berisi tulisan-tulisan indah miliknya, milik Laila yang tersimpan rapi dimeja Rif’at. Dengan haru Laila memeluk buku agenda-agenda itu sambil meneteskan air mata. Dan bersujud sukur kelantai.
Dosakah hamba ya Allah yang berdurhaka kepada suami hamba.. Ampukanlah dosa Hamba..
Yogyakarta, 27 Oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)



























